Loading

Ucapan Salam

Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man taabi'ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.
An Nawawi menyebutkan dalam Shohih Muslim Bab ‘Di antara kewajiban seorang muslim adalah menjawab salam’. Lalu dibawakanlah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ ». قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ ».

“Hak muslim pada muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang menanyakan, ”Apa saja keenam hal itu?” Lantas beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam padanya, (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya, (3) Apabila engkau dimintai nasehat, berilah nasehat padanya, (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’), (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia, dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim no. 2162)
Apakah hak-hak yang disebutkan di sini adalah wajib?
Ash Shon’ani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa inilah hak muslim pada muslim lainnya. Yang dimaksud dengan hak di sini adalah sesuatu yang tidak pantas untuk ditinggalkan. Hak-hak di sini ada yang hukumnya wajib dan ada yang sunnah mu’akkad (sunnah yang sangat ditekankan) yang sunnah ini sangat mirip dengan wajib.” (Subulus Salam, 7/7)
Hukum Memulai Mengucapkan dan Membalas Salam
Jika kita melihat dari hadits di atas, akan terlihat perintah untuk memulai mengucapkan salam ketika bertemu saudara muslim kita yang lain. Namun sebagaimana dinukil dari Ibnu ‘Abdil Barr dan selainnya, mereka mengatakan bahwa hukum memulai mengucapkan salam adalah sunnah, sedangkan hukum membalas salam adalah wajib. (Subulus Salam, 7/7)
Ucapkanlah Salam Kepada Orang yang Engkau Kenali dan Tidak Engkau Kenali
Bukhari membawakan dalam kitab shohihnya Bab ‘Mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal’. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasanya ada seseorang yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ « تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ »
“Amalan islam apa yang paling baik?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Memberi makan (kepada orang yang butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali dan kepada orang yang tidak engkau kenali. ” (HR. Bukhari no. 6236)
Bahkan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal saja, tidak mau mengucapkan salam kepada orang yang tidak dikenal merupakan tanda hari kiamat.
Bukhari mengeluarkan sebuah hadits dalam Adabul Mufrod dengan sanad yang shohih dari Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia melewati seseorang, lalu orang tersebut mengucapkan, “Assalamu ‘alaika, wahai Abu ‘Abdir Rahman.” Kemudian Ibnu Mas’ud membalas salam tadi, lalu dia berkata,
إِنَّهُ سَيَأْتِي عَلَى النَّاس زَمَان يَكُون السَّلَام فِيهِ لِلْمَعْرِفَةِ
“Nanti akan datang suatu masa, pada masa tersebut seseorang hanya akan mengucapkan salam pada orang yang dia kenali saja.”
Begitu juga dikeluarkan oleh Ath Thohawiy, Ath Thobroniy, Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab dengan bentuk yang lain dari Ibnu Mas’ud . Hadits ini sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (baca: hadits marfu’). Lafazh hadits tersebut adalah:
مِنْ أَشْرَاط السَّاعَة أَنْ يَمُرّ الرَّجُل بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ ، وَأَنْ لَا يُسَلِّم إِلَّا عَلَى مَنْ يَعْرِفهُ
“Di antara tanda-tanda (dekatnya) hari kiamat adalah seseorang melewati masjid yang tidak pernah dia shalat di sana, lalu dia hanya mengucapkan salam kepada orang yang dia kenali saja.” (Lihat Fathul Bari, 17/458)
Ibnu Hajar mengatakan, “Mengucapkan salam kepada orang yang tidak kenal merupakan tanda ikhlash dalam beramal kepada Allah Ta’ala, tanda tawadhu’ (rendah diri) dan menyebarkan salam merupakan syi’ar dari umat ini.” (Lihat Fathul Bari, 17/459)
Dan tidak tepat berdalil dengan hadits di atas untuk memulai mengucapkan salam pada orang kafir karena memulai salam hanya disyari’atkan bagi sesama muslim. Jika kita tahu bahwa orang tersebut muslim, maka hendaklah kita mengucapkan salam padanya. Atau mungkin dalam rangka hati-hati, kita juga tidak terlarang memulai mengucapkan salam padanya sampai kita mengetahui bahwa dia itu kafir. (Lihat Fathul Bari, 17/459)
Mengucapkan Salam dapat Mencapai Kesempurnaan Iman
Dari ‘Amar bin Yasir, beliau mengatakan,
ثَلاَثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ الإِيمَانَ الإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ ، وَالإِنْفَاقُ مِنَ الإِقْتَارِ
“Tiga perkara yang apabila seseorang memiliki ketiga-tiganya, maka akan sempurna imannya: [1] bersikap adil pada diri sendiri, [2] mengucapkan salam pada setiap orang, dan [3] berinfak ketika kondisi pas-pasan. ” (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq yaitu tanpa sanad. Syaikh Al Albani dalam Al Iman mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Ibnu Hajar mengatakan, “Memulai mengucapkan salam menunjukkan akhlaq yang mulia, tawadhu’ (rendah diri), tidak merendahkan orang lain, juga akan timbul kesatuan dan rasa cinta sesama muslim.” (Fathul Bari, 1/46)
Saling Mengucapkan Salam akan Menimbulkan Rasa Cinta
Mengucapkan salam merupakan sebab terwujudnya kesatuan hati dan rasa cinta di antara sesama muslim sebagaimana kenyataan yang kita temukan (Huquq Da’at Ilaihal Fithroh, 46). Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)
Siapa yang Seharusnya Mendahului Salam?
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى عَلَى الْقَاعِدِ ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ
“Hendaklah orang yang berkendaraan memberi salam pada orang yang berjalan. Orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk. Rombongan yang sedikit memberi salam kepada rombongan yang banyak.” (HR. Bukhari no. 6233 dan Muslim no 2160)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ
“Yang muda hendaklah memberi salam pada yang tua. Yang berjalan (lewat) hendaklah memberi salam kepada orang yang duduk. Yang sedikit hendaklah memberi salam pada orang yang lebih banyak.” (HR. Bukhari no. 6231)
Ibnu Baththol mengatakan, “Dari Al Muhallab, disyari’atkannya orang yang muda mengucapkan salam pada yang tua karena kedudukan orang yang lebih tua yang lebih tinggi. Orang yang muda ini diperintahkan untuk menghormati dan tawadhu’ di hadapan orang yang lebih tua.” (Subulus Salam, 7/31)
Jika orang yang bertemu sama-sama memiliki sifat yang sama yaitu sama-sama muda, sama-sama berjalan, atau sama-sama berkendaraan dengan kendaraan yang jenisnya sama, maka di antara kedua pihak tersebut sama-sama diperintahkan untuk memulai mengucapkan salam. Yang mulai mengucapkan salam, itulah yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمَاشِيَانِ إِذَا اجْتَمَعَا فَأَيُّهُمَا بَدَأَ بِالسَّلاَمِ فَهُوَ أَفْضَلُ
“Dua orang yang berjalan, jika keduanya bertemu, maka yang lebih dulu memulai mengucapkan salam itulah yang lebih utama.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod dan Al Baihaqi dalam Sunannya. Syaikh Al Albani dalam Shohih Adabil Mufrod mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Namun jika orang yang seharusnya mengucapkan salam pertama kali tidak memulai mengucapkan salam, maka yang lain hendaklah memulai mengucapkan salam agar salam tersebut tidak ditinggalkan. Jadi ketika ini, hendaklah yang tua memberi salam pada yang muda, yang sedikit memberi salam pada yang banyak, dengan tujuan agar pahala mengucapkan salam ini tetap ada. (Huquq Da’at Ilaihal Fithroh, 47)
Jika yang Diberi Salam adalah Jama’ah
Jika yang diberi salam adalah jama’ah (banyak orang), maka hukum menjawab salam adalah fardhu kifayah jika yang lain telah menunaikannya. Jika jama’ah diberi salam, lalu hanya satu orang yang membalasnya, maka yang lain gugur kewajibannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُجْزِئُ عَنِ الْجَمَاعَةِ إِذَا مَرُّوا أَنْ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمْ وَيُجْزِئُ عَنِ الْجُلُوسِ أَنْ يَرُدَّ أَحَدُهُمْ

“Sudah cukup bagi jama’ah (sekelompok orang), jika mereka lewat, maka salah seorang dari mereka memberi salam dan sudah cukup salah seorang dari sekelompok orang yang duduk membalas salam tersebut.” (HR. Abu Daud no. 5210. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Dan sebagaimana dijelaskan oleh Ash Shon’ani bahwa hukum jama’ah (orang yang jumlahnya banyak) untuk memulai salam adalah sunnah kifayah (jika satu sudah mengucapkan, maka yang lain gugur kewajibannya). Namun, jika suatu jama’ah diberi salam, maka membalasnya dihukumi fardhu kifayah. (Subulus Salam, 7/8)
Balaslah Salam dengan Yang Lebih Baik atau Minimal dengan Yang Semisal
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An Nisa’: 86)
Bentuk membalas salam di sini boleh dengan yang semisal atau yang lebih baik, dan tidak boleh lebih rendah dari ucapan salamnya tadi. Contohnya di sini adalah jika saudara kita memberi salam: Assalaamu ‘alaikum, maka minimal kita jawab: Wa’laikumus salam. Atau lebih lengkap lagi dan ini lebih baik, kita jawab dengan: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah, atau kita tambahkan lagi: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barokatuh. Begitu pula jika kita diberi salam: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah, maka minimal kita jawab: Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi, atau jika ingin melengkapi, kita ucapkan: Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi wa barokatuh. Ini di antara bentuknya.
Bentuk lainnya adalah jika kita diberi salam dengan suara yang jelas, maka hendaklah kita jawab dengan suara yang jelas, dan tidak boleh dibalas hanya dengan lirih.
Begitu juga jika saudara kita memberi salam dengan tersenyum dan menghadapkan wajahnya pada kita, maka hendaklah kita balas salam tersebut sambil tersenyum dan menghadapkan wajah padanya. Inilah di antara bentuk membalas. Hendaklah kita membalas salam minimal sama dengan salam pertama tadi, begitu juga dalam tata cara penyampaiannya. Namun, jika kita ingin lebih baik dan lebih mendapatkan keutamaan, maka hendaklah kita membalas salam tersebut dengan yang lebih baik, sebagaimana yang kami contohkan di atas. (Lihat penjelasan ini di Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin pada Bab ‘Al Mubadaroh ilal Khiyarot)
Peringatan
Hendaklah jika kita memberi salam (terutama melalui sms, email, surat, beri comment), janganlah ucapan salam tersebut kita ringkas menjadi: Ass. atau Ass.wr.wb. atau yang lainnya. Bentuk semacam ini bukanlah salam. Salam seharusnya tidak disingkat. Seharusnya jika ingin mengirimkan pesan singkat, maka hendaklah kita tulis: Assalamu’alaikum. Itu lebih baik daripada jika kita tulis: Ass., tulisan yang terakhir ini tidak ada maknanya dan bukanlah salam. Salam adalah bentuk do’a yang sangat bagus dan baik, kenapa kita harus menyingkat-nyingkat [?] Kenapa tidak kita tulis lengkap, bukankah itu lebih baik dan lebih utama [?] Janganlah kita dikepung dengan sikap malas ketika ingin berbuat baik, ubahlah sikap semacam ini dengan menulis salam lebih lengkap.
Jika salam tersebut melalui tulisan, sms, email dan sebagainya, maka hendaklah kita yang membaca salam tersebut, juga membalasnya dengan ditulis secara lengkap dan jangan disingkat-singkat.
Itulah peringatan dari kami. Kami ingatkan demikian karena salam adalah do’a yang sangat baik sekali. Para ulama menjelaskan bahwa As Salam itu termasuk nama Allah. Sehingga jika kita mengucapkan Assalamu’alaikum, maka ini berarti kita mendo’akan saudara kita agar dia selalu mendapat penjagaan dari Allah Ta’ala. Ada juga sebagian ulama mengartikan bahwa As Salam dengan keselamatan. Sehingga jika kita mengucapkan Assalamu’alaikum, maka ini berarti kita mendo’akan saudara kita agar dia mendapatkan keselamatan dalam masalah agama ataupun dunianya. Jadi makna salam yang terakhir ini berarti kita mendo’akan agar saudara kita mendapatkan keselamatan dari berbagai macam kerancuan dalam agama, selamat dari syahwat yang menggelora, juga agar diberi kesehatan, terhindar dari berbagai macam penyakit, dan bentuk keselamatan lainnya. Dengan demikian, salam adalah bentuk do’a yang sangat bagus sekali.
Oleh karena itu, hendaklah kita selalu menyebarkan syiar salam ini ketika bertemu saudara kita, ketika berjalan, dan dalam setiap kondisi. Hendaklah pula kita mengucapkan salam kepada orang yang kita kenali ataupun tidak. Dan dalam menulis sms atau email, hendaklah kita juga gemar menyebarkan syiar Islam yang satu ini. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkan yang satu ini dan semoga pelajaran yang kami sampaikan ini adalah di antara ilmu yang bermanfaat bagi diri kami dan pembaca sekalian. Insya Allah, pembahasan ini masih kami lengkapi lagi pada posting-posting selanjutnya. Mudah-mudahan Allah memudahkan urusan ini.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumman fa’ana bimaa ‘allamtana, wa ‘alimna maa yanfa’una wa zidnaa ‘ilmaa. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Referensi:
Subulus Salam, Ash Shon’ani, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah
Huquq Da’at Ilaihal Fithroh, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Darul Istiqomah
Fathul Bari, Ibnu Hajar, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah
Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Asy Syamilah

Menjaga Cahaya Kemenangan

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa Ilaha Illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wallilaa Ilham.

Rasanya, baru kemarin kalimat takbir, tahmid dan tahlil menggema di seantero jagad, berkumandang membelah angkasa, menyerukan pujian ke Ilahi Rabbi. Rasanya, baru seminggu yang lalu Ramadhan nan agung pergi meninggalkan kita dan kita memproklamirkan diri sebagai pemenang sejati. Akan tetapi, kini kita sudah mulai lupa bagaimana menjaga cahaya kemenangan itu agar ia tetap bersinar menjadi pelita hati dan jiwa, menjadi penuntun raga. Mungkin benarlah pepatah yang mengatakan bahwa mempertahankan kemenangan jauh lebih sulit dari mengejar kemenangan itu sendiri.

Perlahan, masjid-masjid mulai kehilangan penghuni. Perlahan, lantunan kalam mulia Al-Qur'an mulai jarang terdengar lagi. Ruh Ramadhan seakan lenyap menjadi ritual tahunan tanpa makna yang berarti.

Agaknya kita mulai terlupa dengan hakikat dari Ramadhan itu sendiri.

Maha Suci Allah yang telah memberikan kita tiga puluh hari Ramadhan. Sungguh rentang waktu yang cukup bagi kita mengikuti tarbiyah Ilahi. Sebulan penuh kita membiasakan menahan diri lapar dan dahaga, tentulah itu dimaksudkan agar kita setelah Ramadhan menjadi terbiasa untuk berpuasa, sehingga puasa sunnah tak akan lagi menjadi halangan bagi kita.

Sebulan penuh kita mengekang diri dari kemunkaran, tentulah itu agar di kemudian hari kita lebih mudah menyerukan kebaikan.

Sebulan penuh kita terbangun di tengah malam bersiap untuk sahur, sungguh hal itu seharusnya akan membuat kita lebih mudah kembali bangun di tengah malam sembari menghidupkan malam dengan sholat-sholat malam untuk bertaqarrub kepada Allah.

Sebulan penuh bacaan Al-Qur'an yang mulia menghiasi hari-hari kita, maka sudah selayaknyalah jika kemudian kita menjadi terbiasa dengan ucapan-ucapan mulia.

Sebulan penuh kita bersemangat memberikan sedekah, membantu yang fakir, menolong yang lemah. Waktu yang cukup untuk mendidik kita menjadi si lembut hati, sehingga di lain hari kita lebih menjadi lebih mudah tergerak untuk membantu sesama.

Ulama salaf mengatakan bahwa pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya. Oleh karena itu, barang siapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan yang lainnya, maka itu adalah tanda dari diterimanya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan kebaikan kemudian diikuti dengan sesuatu yang buruk, maka itu adalah tanda tertolaknya amal yang pertama.

Kini, jika kita tak lagi merasa ringan melangkahkan kaki mendatangi masjid, jika kita merasa dinginnya malam membuat kita malas meninggalkan peraduan untuk menghidupkan malam, jika kita tak lagi merasa bersemangat melantunkan Al-Qur'an, jika kita kembali begitu mudah mengumbar amarah, jika kita merasa berat menginfaqkan harta kita, jika kita menutup aurat kita hanya karena malu sesaat di bulan Ramadhan, mungkin kita perlu mengingat kembali ibadah Ramadhan yang telah kita lakukan.

Esensi keberhasilan puasa dan kemenangan Idul Fitri adalah keberhasilan kita untuk meningkatkan ibadah kita setelah Ramadhan. Empat belas abad yang lalu, Rasulullah SAW sudah memberikan peringatan berapa banyak orang yang berpuasa akan tetapi kebanyakan hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Sudikah kita termasuk golongan yang hanya mendapatkan hal yang sia-sia tersebut?... tentu saja tidak.

Berpisah dari Ramadhan tidak berarti kita berpisah dari beramal ma'ruf nahi munkar. Jika sesorang kembali pada apa yang diharamkan, kembali pada kemunkaran setelah mengisi kebaikan saat Ramadhan seperti halnya membalas kenikmatan dengan kekufuran, seperti halnya merobohkan kembali bangunan megah yang telah dibangunnya.

Patutlah kita renungkan ungkapan ulama salaf saat menyebutkan bahwa seburuk-buruk kaum adalah kaum yang tidak mengenal Allah dengan secara benar yaitu kaum yang hanya bersungguh-sungguh beribadah di dalam Ramadhan tapi tidak di luar Ramadhan, padahal orang shalih adalah orang yang bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun.

Di depan kita, ada peluang besar untuk kembali menegakkan syiar-syiar Ramadhan, kembali mengaplikasikan hasil training kita di bulan suci. Di hadapan kita terbentang kesempatan untuk berpuasa sunnah seperti puasa di bulan Syawal, Sya'ban, bulan Dzulhijjah, dan puasa Senin-Kamis dengan berbagai keutamaannya. Hari-hari yang akan kita lalui adalah potensi besar yang bisa kita pergunakan untuk mendulang amal dengan bersedekah, bersilaturahmi, menghindari maksiat, sebagaimana telah biasa kita lakukan di bulan Ramadhan.

Kemarin kita telah menyerukan takbir dengan sepenuh hati. Entah berapa sudah ratusan takbir telah kita kumandangkan. Mudah-mudahan seruan takbir kita adalah cerminan pujian isyarat penghambaan sejati, hasil tarbiyah Ramadhan yang bebuah peningkatan ketaqwaan dan tercermin pada perbaikan amalan-amalan kita sehari-hari setelah Ramadhan.

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang tetap bersungguh-sungguh menjalankan ibadah, bersungguh-sungguh menjaga cahaya kemenangan fitri yang akan tetap memancarkan sinarnya menerangi hidup kita.

Amin Ya Rabb...

Bahagia jiwa yang Bersukur

Pernah membayangkan, bagaimana seseorang menulis
buku, bukan dengan tangan atau anggota tubuh
lainnya, tetapi dengan kedipan kelopak mata
kirinya? Jika Anda mengatakan itu hal yang
mustahil untuk dilakukan, tentu saja Anda belum
mengenal orang yang bernama Jean- Dominique Bauby.
Dia pemimpin redaksi majalah Elle, majalah
kebanggaan Prancis yang digandrungi wanita seluruh
dunia.

Betapa mengagumkan tekad dan semangat hidup maupun
kemauannya untuk tetap menulis dan membagikan
kisah hidupnya yang begitu luar biasa. Ia
meninggal tiga hari setelah bukunya diterbitkan.
Setelah tahu apa yang dialami si Jean dalam
menempuh hidup ini, pasti Anda akan berpikir,
"Berapa pun problem dan stres dan beban hidup kita
semua, hampir tidak ada artinya dibandingkan
dengan si Jean!"

Tahun 1995, ia terkena stroke yang menyebabkan
seluruh tubuhnya lumpuh. Ia mengalami apa yang
disebut locked-in syndrome, kelumpuhan total yang
disebutnya "Seperti pikiran di dalam botol".
Memang ia masih dapat berpikir jernih tetapi sama
sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-
satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah
kelopak mata kirinya. Jadi itulah cara dia
berkomunikasi dengan para perawat, dokter rumah
sakit, keluarga dan temannya.

Begini cara Jean menulis buku. Mereka (keluarga,
perawat, teman- temannya) menunjukkan huruf demi
huruf dan si Jean akan berkedip apabila huruf yang
ditunjukkan adalah yang dipilihnya. "Bukan main,"
kata Anda.

Ya, itu juga reaksi semua yang membaca kisahnya.
Buat kita, kegiatan menulis mungkin sepele dan
menjadi hal yang biasa. Namun, kalau kita disuruh
"menulis" dengan cara si Jean, barang kali kita
harus menangis dulu berhari-hari dan bukan buku
yang jadi, tapi mungkin meminta ampun untuk tidak
disuruh melakukan apa yang dilakukan Jean dalam
pembuatan bukunya.

Tahun 1996 ia meninggal dalam usia 45 tahun
setelah menyelesaikan memoarnya yang ditulisnya
secara sangat istimewa. Judulnya, "Le Scaphandre"
et le Papillon (The Bubble and the Butterfly).

Jean adalah contoh orang yang tidak menyerah pada
nasib yang digariskan untuknya. Dia tetap hidup
dalam kelumpuhan dan tetap berpikir jernih untuk
bisa menjadi seseorang yang berguna, walaupun
untuk menelan ludah pun, dia tidak mampu, karena
seluruh otot dan saraf di tubuhnya lumpuh. Tetapi
yang patut kita teladani adalah bagaimana dia
menyikapi situasi hidup yang dialaminya dengan
baik dan tetap menjadi seorang manusia (bahasa
Sansekerta yang berarti pikiran yang terkendali),
bahkan bersedia berperan langsung dalam film yang
mengisahkan dirinya.

Jean, tetap hidup dengan bahagia dan optimistis,
dengan kondisinya yang seperti sosok mayat
bernapas. Sedangkan kita yang hidup tanpa punya
problem seberat Jean, sering menjadi manusia yang
selalu mengeluh..! Coba ingat-ingat apa yang kita
lakukan. Ketika mendapat cuaca hujan, biasanya
menggerutu. Sebaliknya, mendapat cuaca panas juga
menggerutu. Punya anak banyak mengeluh, tidak
punya anak juga mengeluh. Carl Jung, pernah
menulis demikian: "Bagian yang paling menakutkan
dan sekaligus menyulitkan adalah menerima diri
sendiri secara utuh, dan hal yang paling sulit
dibuka adalah pikiran yang tertutup!"

Maka, betapapun kacaunya keadaan kita saat ini,
bagi yang sedang stres berat, yang sedang
berkelahi baik dengan diri sendiri maupun melawan
orang lain, atau anggota keluarga yang sedang
tidak bahagia karena kebutuhan hidupnya tidak
terpenuhi, yang baru mendapat musibah kecelakaan
atau bencana, bagi yang sedang di-PHK, ingatlah
kita masih bisa menelan ludah, masih bisa makan
dan menggerakkan anggota tubuh lainnya. Maka
bersyukurlah, dan berbahagialah...! Jangan menjadi
pengeluh, penggerutu, penuntut abadi, tapi
bijaksanalah untuk bisa selalu think and thank
(berpikir, kemudian berterima kasih/ bersyukurl).

Dalam artikel yang berjudul Kegagalan & Kesuksesan
Hasil Konsekuensi Pikiran ( SPM 26 Februari 2005)
dituliskan, seseorang yang sadar sepenuhnya, dia
datang ke dunia ini hanya dibekali sebuah nyawa
(jiwa). Nah, nyawa itu harus dirawat dengan
menjalani kehidupan secara bertanggung jawab.
Dengan nyawa ini pulalah, seseorang harus hidup
bahagia, di manapun dia berada, dan dalam kondisi
apapun, dia harus bisa bahagia. Kunci kebahagiaan
adalah bersyukur! Mensyukuri apa yang kita dapat
itu penting, termasuk sebuah nyawa agar kita bisa
hidup di alam ini. Dan kebahagiaan bisa dibuat,
dengan tidak meminta (menuntut) apapun pada orang
lain, tetapi memberikan apa yang bisa diberikan
kepada orang lain agar mereka bahagia. Jadilah
seseorang yang merasa ada gunanya untuk kehidupan
ini.

Untuk itu, Anda bisa mendengarkan intuisi sendiri
sehingga bertindak sesuai nurani dan menghasilkan
apa yang Anda inginkan dalam hidup. Hadapi hidup
dengan tabah karena orang-orang beruntung bukan
tidak pernah gagal. Bukan tidak pernah ditolak,
juga bukan tidak pernah kecewa. Justru banyak
orang yang sukses itu sebetulnya orang yang telah
banyak mengalami kegagalan.

Berpikirlah positif, Anda akan menjadi orang yang
beruntung. Banyak cerita tentang keberuntungan
berasal dari kejadian-kejadian yang tidak
menguntungkan. Misalnya, kehilangan pekerjaan
memunculkan ide besar untuk mulai bisnis sendiri
dan menjadi majikan. Ditolak pun bisa mendatangkan
kesuksesan. Tetapi, untuk mendapatkan
keberuntungan diperlukan usaha. Dan mulailah
sekarang juga untuk berusaha!

Haruskah Hati Menciptakan Jarak

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika
seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat
atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab,
"Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu
berteriak."

"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di
sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara
halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut
pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan. Sang guru
lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak
antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu
dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus
berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula
mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara
keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak
lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang
saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka
berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil.
Sehalus apa pun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa
demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka
nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.
"Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya
sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah
cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan, "Ketika Anda sedang dilanda kemarahan,
janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak
mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat
seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang
bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda."

Popular Posts

Change Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Langganan Artikel

Categories

postingan terakhir