Loading

Menjaga Cahaya Kemenangan

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa Ilaha Illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wallilaa Ilham.

Rasanya, baru kemarin kalimat takbir, tahmid dan tahlil menggema di seantero jagad, berkumandang membelah angkasa, menyerukan pujian ke Ilahi Rabbi. Rasanya, baru seminggu yang lalu Ramadhan nan agung pergi meninggalkan kita dan kita memproklamirkan diri sebagai pemenang sejati. Akan tetapi, kini kita sudah mulai lupa bagaimana menjaga cahaya kemenangan itu agar ia tetap bersinar menjadi pelita hati dan jiwa, menjadi penuntun raga. Mungkin benarlah pepatah yang mengatakan bahwa mempertahankan kemenangan jauh lebih sulit dari mengejar kemenangan itu sendiri.

Perlahan, masjid-masjid mulai kehilangan penghuni. Perlahan, lantunan kalam mulia Al-Qur'an mulai jarang terdengar lagi. Ruh Ramadhan seakan lenyap menjadi ritual tahunan tanpa makna yang berarti.

Agaknya kita mulai terlupa dengan hakikat dari Ramadhan itu sendiri.

Maha Suci Allah yang telah memberikan kita tiga puluh hari Ramadhan. Sungguh rentang waktu yang cukup bagi kita mengikuti tarbiyah Ilahi. Sebulan penuh kita membiasakan menahan diri lapar dan dahaga, tentulah itu dimaksudkan agar kita setelah Ramadhan menjadi terbiasa untuk berpuasa, sehingga puasa sunnah tak akan lagi menjadi halangan bagi kita.

Sebulan penuh kita mengekang diri dari kemunkaran, tentulah itu agar di kemudian hari kita lebih mudah menyerukan kebaikan.

Sebulan penuh kita terbangun di tengah malam bersiap untuk sahur, sungguh hal itu seharusnya akan membuat kita lebih mudah kembali bangun di tengah malam sembari menghidupkan malam dengan sholat-sholat malam untuk bertaqarrub kepada Allah.

Sebulan penuh bacaan Al-Qur'an yang mulia menghiasi hari-hari kita, maka sudah selayaknyalah jika kemudian kita menjadi terbiasa dengan ucapan-ucapan mulia.

Sebulan penuh kita bersemangat memberikan sedekah, membantu yang fakir, menolong yang lemah. Waktu yang cukup untuk mendidik kita menjadi si lembut hati, sehingga di lain hari kita lebih menjadi lebih mudah tergerak untuk membantu sesama.

Ulama salaf mengatakan bahwa pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya. Oleh karena itu, barang siapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan yang lainnya, maka itu adalah tanda dari diterimanya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan kebaikan kemudian diikuti dengan sesuatu yang buruk, maka itu adalah tanda tertolaknya amal yang pertama.

Kini, jika kita tak lagi merasa ringan melangkahkan kaki mendatangi masjid, jika kita merasa dinginnya malam membuat kita malas meninggalkan peraduan untuk menghidupkan malam, jika kita tak lagi merasa bersemangat melantunkan Al-Qur'an, jika kita kembali begitu mudah mengumbar amarah, jika kita merasa berat menginfaqkan harta kita, jika kita menutup aurat kita hanya karena malu sesaat di bulan Ramadhan, mungkin kita perlu mengingat kembali ibadah Ramadhan yang telah kita lakukan.

Esensi keberhasilan puasa dan kemenangan Idul Fitri adalah keberhasilan kita untuk meningkatkan ibadah kita setelah Ramadhan. Empat belas abad yang lalu, Rasulullah SAW sudah memberikan peringatan berapa banyak orang yang berpuasa akan tetapi kebanyakan hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Sudikah kita termasuk golongan yang hanya mendapatkan hal yang sia-sia tersebut?... tentu saja tidak.

Berpisah dari Ramadhan tidak berarti kita berpisah dari beramal ma'ruf nahi munkar. Jika sesorang kembali pada apa yang diharamkan, kembali pada kemunkaran setelah mengisi kebaikan saat Ramadhan seperti halnya membalas kenikmatan dengan kekufuran, seperti halnya merobohkan kembali bangunan megah yang telah dibangunnya.

Patutlah kita renungkan ungkapan ulama salaf saat menyebutkan bahwa seburuk-buruk kaum adalah kaum yang tidak mengenal Allah dengan secara benar yaitu kaum yang hanya bersungguh-sungguh beribadah di dalam Ramadhan tapi tidak di luar Ramadhan, padahal orang shalih adalah orang yang bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun.

Di depan kita, ada peluang besar untuk kembali menegakkan syiar-syiar Ramadhan, kembali mengaplikasikan hasil training kita di bulan suci. Di hadapan kita terbentang kesempatan untuk berpuasa sunnah seperti puasa di bulan Syawal, Sya'ban, bulan Dzulhijjah, dan puasa Senin-Kamis dengan berbagai keutamaannya. Hari-hari yang akan kita lalui adalah potensi besar yang bisa kita pergunakan untuk mendulang amal dengan bersedekah, bersilaturahmi, menghindari maksiat, sebagaimana telah biasa kita lakukan di bulan Ramadhan.

Kemarin kita telah menyerukan takbir dengan sepenuh hati. Entah berapa sudah ratusan takbir telah kita kumandangkan. Mudah-mudahan seruan takbir kita adalah cerminan pujian isyarat penghambaan sejati, hasil tarbiyah Ramadhan yang bebuah peningkatan ketaqwaan dan tercermin pada perbaikan amalan-amalan kita sehari-hari setelah Ramadhan.

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang tetap bersungguh-sungguh menjalankan ibadah, bersungguh-sungguh menjaga cahaya kemenangan fitri yang akan tetap memancarkan sinarnya menerangi hidup kita.

Amin Ya Rabb...
StumbleDeliciousTechnoratiTwitterFacebookReddit

0 komentar:

Change Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Langganan Artikel

Categories

postingan terakhir